Semua ini berawal dari sebuah rasa..
Yang tiba-tiba timbul dan kemudian hadir..
Aku mencintainya..
Memang mungkin aku yang salah..
Salah mencintai sesosok gadis yang sedang rapuh..
Rapuh karena kekasihnya..
Namun aku..tetap saja bertahan..
Yang namanya cinta mungkin sulit untuk di redam dengan logika..
Aku tetap saja bandel..
Tak mau kalah untuk tetap mencintainya..
Hingga dia dapat menguasai hati dan perasaan ini..
Aku yang biasanya tak terkalahkan oleh apapun..
Tapi tidak dengan cintanya..
Aku kalah...
Tuhannn...air mata ini..
Hati ini..
Luka ini..
Kecewa ini..
Aku pilih mati..
Aku telah kehilangan separuh nafas ini..
Hidupku di buat permainan olehnya..
Dan terus di mainkan..
Aku sakit tuhan..
Hampir mati saat ini
Walau telah ku putuskan untuk mati..
Karena dia cinta
Aku...
Dan pada akhirnya saat mati menjadi pilihan..
Ku tarik pelatuk ini pelan dan lambat..
Terima kasih untuk kamu..
Karena telah melukai aku hingga kesisi terdalam hatiku..
Air mata ini
Luka ini
Kecewa ini
Akan ku bawa sampai mati..
Semoga kau bahagia..
Dengan siapapun yang menemanimu..
Aku..
Hanya bisa mendokanmu
Insaya Allah akan selalu ada doa-doaku yang ku lantunkan di setiap solat-solatku lima waktu..
Aku mencintaimu karena Allah..
Dan jika mungkin kau bukan untukku..
Aku yakin semua telah kehendakNya untukku..
Aku pamit dari hidupku tapi tidak kamu dari hidupku
Kamu selalu ada disini
Di sisi terdalam hatiku..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
puisi menarik
-
ASA Oleh El_Nawir Ku tatap awan senja sambil mentafakkuri alam yang beraneka ragam ku lihat bintang malam penuh akan sebuah asa yang damaika...
-
Ku tak tau harus berkata apa Hatiku kini telah berada di jurang kegalauan Sakit akibat cinta bertepuk sebelah tangan Namun, ku takkan menyer...
-
MELANGKAH BERSAMAMU Oleh Anna Rossdiana Malaikatku... beribu-ribu malam telah kita lewati gersangnya terik telah terbiasa dalam langkah kita...
-
AKU INGIN JADI WANITA Oleh GG Andai aku seorang wanita Yang terbalut sehelai gaun berwarna sendu Menari ditengah hujan dengan iringan lagu A...
-
KERAGUAN Oleh Nanang Ardianto Tersipu mengingat saat itu Kau ucapkan beribu kata indah Tersipu membayangkan waktu itu Kau tunjukkan beribu r...

0 komentar:
Post a Comment